Sunday, 21 May 2017

Do'a Ketika Marah

Doa Ketika Marah

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A'UUDZU BILLAAHI MINASYSYAITHAANIRRAJIIM

Arti:
aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk

Friday, 3 April 2015

Thursday, 20 October 2011

Hikmah Penyembelihan Hewan Menurut Syari’at Islam


Sebagai orang iman, ada ketentuan yang harus diikuti dalam menyembelih hewan ternak. Di antaranya adalah hadits Rosulullohi shollallohu ‘alaihi wasallam, yang artinya: “Sesungguhnya Alloh menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah kalian berbuat ihsan dalam menyembelih, (yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihkan.” (HR. Muslim)

Kandungan hadits ini agaknya “sulit” untuk dijelaskan kepada orang non-Muslim. Betapa tidak, di dalamnya terdapat ungkapan kata seakan-akan Alloh memerintahkan kita untuk “membunuh”. Apalagi secara eksplisit disebutkan pengertian “...tajamkanlah pisaunya...!” Bukankah ini menunjukkan bahwa umat Islam memang disuruh dan dilatih untuk membunuh dengan “kejam”. Namun terdapat pula ungkapan yang mungkin dianggap aneh, “...meringankan binatang yang disembelih...” (Apakah tidak aneh, membunuh kok menggunakan ungkapan basa-basi, “meringankan binatang yang disembelih...” Padahal jelas, disembelih itu kan tentu menimbulkan rasa sakit yang sangat, bahkan sampai menyebabkan kematian!)

Bagi kita, umat Islam, apa pun haditsnya, isinya, dan konteksnya, yang jelas itu adalah sebuah riwayat yang shohih, oleh Imam Muslim. Seorang ulma’ hadits yang telah teruji kebenarannya. Dan sebagai umat Islam, kita tentu meyakini bahwa Syari’at Islam, seperti yang terkandung dalam hadits tersebut, adalah syari’at yang “ya’lu wa laa yu’la ‘alaihi” (yang terbaik serta paling tinggi, dan tidak ada yang dapat menandingi keunggulannya).

Tetapi, keyakinan kita ini sangat berbeda dengan pendapat orang-orang Barat. Menurut mereka, Syari’at Islam itu merupakan contoh nyata betapa ajaran Islam sangat tidak manusiawi, dan kelompok/umat Islam adalah umat yang bengis. Diajarkan dan dilatih untuk suka berbuat bengis dan suka menganiaya binatang ternak. Di antara buktinya, masih menurut merekalagi, setiap tahun umat Islam mengikat hewan ternak, kemudian menyembelih/membantainya secra beramai-ramai. Ternak-ternak itu tidak berdaya, hanya bisa meronta-ronta dan mengerang kesakitan saat disembelih. Betapa teganya orang Islam.

Menurut mereka lagi, kalau ingin mengkonsumsi daging binatang ternak, maka haruslah dengan cara yang baik. Bukan menyembelihnya secara kejam. Dan cara yang baik itu, merurut mereka adalah dengan memingsankan hewan ternak itu terlebih dahulu, baru disembelih (dalam keadaan pingsan). Dalam hal ini pemingsanan itu dapat dilakukan dengan berbagai alat, seperti stunning gun, pembiusan, atau menggunakan arus listrik. Selain itu, metode pemingsanan terbaik yang sering mereka lakukan adalah dengan cara memukul  bagian tertentu di kepala ternak dengan alat tertentu, dengan beban dan kecepatan yang tertentu pula. Alat yang dipakai untuk memingsankan ternak itu, di antaranya adalah Captive Bolt Pistol (KBP). Menurut mereka, 8inilah cara yang terbaik dan lebih “manuasiawi”. Cara ini juga, menurut mereka lagi, dapat melindungi pekerja dari kemungkinan kecelakaan karena hewan meronta-ronta ketika disembelih. Setelah pigsan, menurut mereka juga, hewan itu tidak akan merasa kesakitan bila disembelih. Carqa seperti ini mereka yakini sebagai cara yang terbaik. Karena hewan tidak meronta-ronta, tidak tampak kesakitan, dan ‘sepertinya’ tidak merasakan sakit (karena telah pingsan).

Begitulah tuduhan dan hujatan mereka. Memang tamapknya sangat sulit bagi kita untuk ‘membela diri’, walau sekedar untuk berargumentasi. Boleh jadi pula kita memang tidak bisa mengelak atas tuduhan itu, atau bahkan sebagian kita malah membenarkan tuduhan miring itu?

Lantas bagaimana kita menyikapi tuduhan miring itu? Menolak tanpa bisa memberi argumentasi (bantahan) yang rasional atau menerima saja tuduhan itu dengan setengah hati, yang berarti ‘membenarkan’ tuduhan mereka itu? Apakah memang sangat sulit bagi kita yang  orang iman untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Syari’at Islam adalah yang terbaik?

Di tengah-tengah kegundahan karena tundingan dan tantangan itu, melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman, yaitu Prof. Dr. Scultz dan koleganya, Dr Hazim. Keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan, “manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan cara pemingsanan)?

Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang dipermukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekan dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan syari’at Islam yang murni, dan seperuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

Dalam syari’at Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis.

Patut pula diketahui, syari’at Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian. EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang sangat ditunggu-tunggu!

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof. Sehultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh beberapa hal, sbb:

Penyembelihan menurut Syari’at Islam

Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syar’at Islam menunjukkan:

Pertama, pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua, pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga, setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemakan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali)

Keempat, karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy food.
Penyembelihan Cara Barat

Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan (tampaknya) tanpa (mengalami) rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).

Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul sampai jatuh pingsan).

Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa. Sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat, karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealty meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku 9yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.

Bukan Ekspresi Rasa Sakit!

Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih  ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka, pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar...!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim justru membuktikan yang sebaliknya. Yakni bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syari’at Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah “menyentuh” syaraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otak dan syaraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu!

Disadur dan diringkas oleh Usman Effendi AS., dari makalah tulisan Nanung Dananr Dono, S.Pt., M.P., Sekretaris Eksekutif LP.POM-MUI Propinsi DIY dan Dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta.

Monday, 5 September 2011

Bahaya Menunda-nunda “Procrastination”


Ternyata ibadah itu tidak hanya asal dikerjakan, tetapi waktunya juga harus dijaga. Firman Allah innaman nasii-u ziyaadatun fil kufr ~ sesungguhnya menunda-nunda itu menambah kekufuran.

Dari 5 rukun Islam, hanya sholat yang tidak kenal ampun, maksudnya tidak ada alasan untuk tidak dikerjakan. Dan harus pada rentang waktunya pula.

Berbeda dengan haji yang baru wajib dikerjakan bagi yang sudah mampu. Sedangkan sholat tidak mengenal tidak mampu. Tidak ada pengecualian. Bagi yang sakit super berat, sholat harus jalan terus. Sambil duduk, atau berbaring, bahkan cukup dengan isyarat mata jika anggota badan tidak bisa digerakkan.

Puasa bisa diganti fid-yah, bisa dibayar di lain waktu, bahkan dibayar ahli waris. Sholat tidak bisa. Harus dikerjakan sendiri. Zakat ada perhitungan nishob yang lumayan rumit, sedangkan nishob sholat sangat simpel: perintah anak umur 6 tahun, jitak anak umur 9 tahun. Sederhana, bukan? Tentunya dengan pukulan ringan yang tidak melukai dengan maksud untuk mendidik, bukan dengan tempeleng yang membuat anak semaput.

Apakah setelah mengerjakan sholat semuanya otomatis oke? Ternyata tidak.
Wailul lil musholliina ~ Neraka Wail bagi orang yang sholat.
Alladzina hum ‘an sholaatihim saahuun ~ yaitu orang yang sholatnya lalai.
Jadi jelas, sholat tidak hanya wajib dikerjakan, tetapi juga wajib dijaga waktunya. Dikerjakan tetapi telat, itulah buah dari yang namanya Menunda-nunda. Dalam terminologi Time Management alias Manajemen Waktu, disebut Procrastination.
Bagaimana dengan ibadah dan pekerjaan lainnya?

Saturday, 3 September 2011

Ramlah binti Abu Sufyan


sumber : www.lantabur.tv

Keteguhan dalam Memeluk Islam

Dikisahkan bahwa setelah Ramlah binti Abu Sufyan mendengar tentang Islam, dia langsung menyatakan diri memeluk Islam, terutama setelah mengetahui bahwa agama baru itu menyuruh manusia untuk menyembah Allah semata, meninggalkan peribadatan berhala, menganjurkan untuk berakhlak baik dan terpuji, serta menjauhi berbagai bentuk kemungkaran. Ramlah meyakini bahwa hanya Islamlah agama yang baik.

Karena itu, dia bergegas masuk Islam, dan tidak takut kepada ayahnya, Abu Sufyan, yang pada saat itu menjadi pemimpin Makkah dan juga pemimpin Bani Umayyah. Terbukti, setelah berita masuk Islamnya sampai kepada sang ayah yang merupakan pemimpin kaum musyrik, dia tetap tegar dan kokoh pada pendiriannya.

Mendengar berita keislamannya putrinya, Abu Sufyan marah besar. Ini mengingat, tidak pernah terlintas di benaknya akan ada seseorang dari suku Quraisy yang keluar dari kekuasaannya dan menentang perintahnya. Jelas, keislaman putrinya, Ramlah, sangat mengusik kekuasaan Abu Sufyan. Ramlah benar-benar memiliki sikap patriotik luar biasa yang dicatat oleh sejarah. Betapa tidak, dia begitu teguh menghadapi tirani kekafiran yang direfleksikan dalam diri sang ayah. Ramlah dengan terang-terangan ingkar kepada tuhan-tuhan ayahnya, tuhan-tuhan yang selamanya tidak akan pernah mendatangkan manfaat dan tidak pula bisa menolak bahaya. Ramlah dengan kokohnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tak ayal, Abu Sufyan berusaha dengan segala cara untuk bisa mengembalikan putrinya itu kepada agama nenek moyangnya. Namun usahanya itu sia-sia, karena sang putri tetap kokoh pada akidah tauhid. Abu Sufyan pun merasa malu dan bersembunyi dari kaumnya. Dia tidak tahu lagi bagaimana menghadapi cemoohan orang-orang Quraisy yang disebabkan keislaman Ramlah.

Maka orang-orang musyrik melakukan konspirasi untuk menghadapi Ramlah dan suaminya, setelah mendapatkan ‘restu’ dari Abu Sufyan. Mereka mempersempit ruang gerak Ramlah dan suaminya, hingga keduanya lari dari bumi Makkah, dan berangkat menuju Habasyah. Keduanya pun menetap di Habasyah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan takdirnya. Allah berketetapan untuk memberikan ujian berat kepada Ramlah, untuk menguji kekuatan iman dan ketetapan hatinya.

Berbagai ujian dan cobaan dilalui Ramlah di Habasyah, dan dia tetap dalam keimanannya, beribadah kepada Allah, mendidik anaknya dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak seperti Ramlah yang kokoh dan tegar, Ubaidillah bin Jahsy (suaminya) justru menjadi ragu-ragu, dan sering kedapatan duduk bareng dengan para pendeta Nasrani.

Pada suatu malam, Ramlah bermimpi bahwa suaminya terjatuh ke dalam lautan yang dalam dan gelap. Sehingga keadaannya suaminya menjadi sangat buruk. Kemudian dia pun bangun dari tidurnya dengan perasaan takut dan cemas. Ramlah menemui suaminya dan memberitahukan kepadanya mengenai mimpi itu. Suaminya lantas berkata, “Aku melihat agama itu (Nasrani), dan aku tidak melihat suatu agama yang lebih baik daripada agama Nasrani. Karena itu, aku menganut agama itu. Kemudian aku masuk ke dalam agama Muhammad, dan aku kembali lagi ke agama Nasrani.”

Ramlah kemudian berusaha mengembalikan suami ke agama Islam, namun suaminya menolak. Hal ini menjadi ujian dan cobaan terberat baginya. Bahkan suaminya mencoba mengajak Ramlah untuk memeluk agama Nasrani. Akan tetapi Ramlah bersikap layaknya seorang patriot dan tetap bertahan di dalam Islam yang telah melapangkan dada dan menyinari akalnya. Ubaidillah kemudian memberi dua pilihan kepada Ramlah; memeluk agama Nasrani atau diceraikan. Bagi Ramlah dua pilihan itu menjelma menjadi tiga pilihan, yaitu antara menemui seruan suaminya, atau diceraikan, atau kembali kepada ayahnya yang masih kafir, lalu tinggal di rumahnya dalam keadaan terpaksa dan ditekan, atau tetap bermukim di negeri Habasyah sendirian, tanpa keluarga.

Ramlah menjauh dari orang-orang dan duduk menyendiri memikirkan apa yang harus dilakukan. Hingga akhirnya, keteguhan imannya memutuskan untuk tetap tinggal di Habasyah. Dia pasrah dan menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah. Demikianlah, seandainya bukan karena keimanan dan ketawakalannya yang kuat kepada Allah, niscaya dia tidak mampu menghadapi ujian serta guncangan yang berat itu. Dalam keadaan itulah Ramlah kemudian mendengar kabar kematian suaminya yang meregang nyawa disebabkan minuman keras (khamr). Namun sekali lagi, dia tetap bersabar menghadapi kabar duka itu.

Bertemu Kembali dengan Sang Ayah

Hari demi hari dilalui Ramlah di negeri Habasyah dengan penuh kesabaran dan ketabahan menghadapi berbagai macam kesulitan hidup, hingga akhirnya Allah memberinya jalan keluar dari segenap ujian itu. Karena sesungguhnya setelah kesulitan pasti datang kemudahan, dan setiap masalah pasti akan ada jalan keluar dan jalan menuju kebahagiaan, selama berpegang teguh kepada Islam.

Diceritakan bahwa Rasulullah mengutus seseorang untuk melamarkan Ramlah bagi beliau. Dengan demikian, Ramlah mendapatkan kemuliaan sangat besar, karena menjadi Ummul Mukminin. Hal tersebut merupakan balasan keimanan dan kesabarannya, serta keteguhan hatinya.

Ummul Mukminin Ramlah kemudian kembali ke Madinah, dan hampir seluruh penduduknya menyambut hangat kedatangan anak perempuan Abu Sufyan itu. Dia lalu tinggal bersama Rasulullah dan memulai kehidupan bersama beliau dalam keadaan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.

Ketika orang-orang Quraisy melanggar perjanjian yang ditetapkan bersama Rasulullah, Abu Sufyan datang untuk memperbarui dan mengokohkan perjanjian itu. Abu Sufyan lalu menemui putrinya, Ramlah, di dalam rumah. Ketika Abu Sufyan hendak duduk di atas dipan Rasulullah, dengan tanggap Ramlah melakoni sikap patriotik di hadapan ayahnya, dan menyingkirkan dipan beliau agar tidak diduduki sang ayah.

Sikap tersebut menjadi teladan baik bagi kaum beriman untuk senantiasa membela Rasulullah, dan barra` (berlepas diri) dari orang-orang kafir, meski mereka adalah orangtua dan saudara. Ramlah menyadari bahwa ayahnya masih kafir, sehingga dia tidak membolehkannya duduk di tempat Rasulullah. Tak lama setelah kejadian tersebut, Abu Sufyan kemudian masuk Islam. Betapa senang dan gembira hati Ramlah, setelah menjalani kehidupan yang sulit, dia kemudian mendapatkan beberapa kebahagiaan.

Sikap Ramlah menghadapi cobaan yang menimpanya bisa dijadikan contoh baik bagi setiap muslim dan muslimah. Kedalaman keimanan kepada Allah membuatnya mampu bersabar dalam keadaan susah dan tetap berpegang teguh kepada prinsip.

Tags: